Ikuti kami

Inilah alasan Mengapa game Free Fire memiliki banyak penggemar?

Inilah alasan Mengapa game Free Fire memiliki banyak penggemar?

Kuncinya adalah gratis, Dan ini berlaku tidak hanya untuk game "Free Fire", tapi juga "PUBG", "Paladin", "DOTA", "League of Legend", dan "Fortnite".

Tentu saja "Free Fire" kalah tenar dibandingkan "PUBG" kalau untuk level dunia, tapi ada beberapa pemain "PUBG" yang kritis dengan permasalahan bug, hijrah ke "Free Fire" yang dianggap lebih stabil.

Saya bisa menyebutkan banyak sekali alasan kenapa game tipe battle royale ini sangat populer, diantaranya adalah:

1. Gratis

Oke, sudah saya jelaskan diawal. Game gratis pangsa utamanya adalah bocah dan orang-orang yang pelit, jadi sangat mudah untuk diunduh dan dimainkan.

2. No Pay To Win

Sudah menjadi rahasia umum dikalangan gamers bahwa game gratis pasti ada unsur-unsur berbayarnya agar pemain bisa mendapatkan kekuatan lebih spesial dibandingkan mereka yang mainnya gratis.

Ini tidak berlaku bagi game tipe MOBA dan battle royal. Semua karakter akan mendapatkan statistik kemampuan yang relatif sama sehingga para pemain memiliki peluang menang yang sama pula. Yang berbicara hanyalah keahlian dalam bermain.

Pembelian Diamon atau Gold atau apapun namanya hanya untuk membeli barang-barang kosmetik untuk mempercantik tampilan karakter saja. Semakin berkilau karakternya semakin segan orang melihatnya.

3. Berbasis Mobile

Dibandingkan konsol seperti PlayStation atau Xbox yang cukup mahal, semua orang punya ponsel dan karena itu kapan saja dimana saja bisa memainkannya.

Ups, maaf… saya tidak terpengaruh tren mobile gaming karena bisa meruntuhkan predikat The Glorious PC Gaming Master Race saya. Saya main game mobile hanya untuk sebatas rekreasi, karena itu paling-paling hanya game yang ringan-ringan saja.


4. Kompetitif

Bermain game sekarang bukan lagi sebuah sarana untuk rekreasi dan menghilangkan stres. Tapi malah menambah stres itu sendiri.

Bocah-bocah suka pamer dan ingin terlihat berbeda. Itu semua difasilitasi dengan adanya fitur rank. Jika bocah mencapai poin atau rank tertentu mereka percaya bisa meningkatkan gengsi dan "kekerenan" mereka di mata teman-teman.

Rank menjadi ajang pamer bagi mereka di grup. Rank rendah berarti "cacad" dan tidak layak untuk hidup. Rank tinggi berarti "Hacker" dan akan disembah-sembah di grup.

Jika mereka sudah susah payah menaikkan rank, tapi ternyata mendapat anggota tim yang tolol, rank mereka bisa turun.

Kalau kalahnya berkali-kali mereka menjadi stres, karena merasa sudah mengivestasikan waktunya sedemikian lamanya (bahkan berminggu-minggu) demi rank tapi langsung jeblok dalam hitungan jam.

Akibatnya mereka stres, mengeluarkan caci makian dan sumpah serapah untuk melampiaskan stres mereka.


5. eSport

Gara-gara banyaknya artikel di dunia maya yang menceritakan tentang gelaran eSport berhadiah ratusan juta dollar, bocah-bocah bermimpi bisa menjadi atlet eSport.

Mereka mengkhayal bahwa keahlian mereka hanya sebatas bermain game saja, dan menurut mereka belajar tidak ada gunanya kalau toh cita-cita mereka adalah menjadi atlet eSport yang bergaji puluhan juta rupiah.

Hidup disinari lampu panggung, pakai baju berlabel logo sponsor seperti Cooler Master dan Corsair, duduk di kursi gaming sambil streaming main game, mereka pikir semua ini adalah jalan termudah untuk mendapatkan uang.

Padahal kenyataannya? Yaach… mimpi tinggal mimpi. Sama seperti atlet bola, berapa persen yang berhasil di liga nasional dan berapa persen yang hanya sukses di liga tarkam.


6. Berharap bertemu jodoh

Dibayang-bayangi ada cewek yang bermain game dan wajahnya ternyata secantik ini. Maka bocah-bocah berkhayal bisa bertemu jodohnya di dunia game. Menurut mereka, gamer cewek itu adalah malaikat.
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar